CERITA/STORY LIMOSA LIMOSA

Taman Nasional Wasur merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai potensi keanekaragam yang sangat tinggi, salah satunya adalah keanekaragaman jenis-jenis burung migran. Sampai saat ini di TN Wasur telah tercatat 403 species burung dengan 74 species diantaranya endemik Papua dan diperkirakan terdapat 114 species yang dilindungi. Keberadaannya sebagai daerah lahan basah merupakan habitat penting bagi burung-burung air di Indonesia khususnya burung migran yang berasal dari Australia dan New Zealand dan memiliki arti penting bagi kepentingan internasional sebagai tempat persinggahan ribuan burung migrasi. 

Kata migrasi diturunkan dari kata migrat (Latin) yang berarti pergi dari satu tempat ke tempat lain atau juga bermakna bepergian ke berbagai tempat (Peterson, 1986). Migrasi dalam kehidupan hewan dapat didefinisikan sebagai pergerakan musiman yang dilakukan secara terus menerus dari satu tempat ke tempat lain dan kembali ke tempat semula, biasanya dilakukan dalam dua musim yang meliputi datang dan kembali ke daerah perkembangbiakan (Alikondra, 1990).
Migrasi merupakan pola adaptasi perilaku yang dilakukan oleh beberapa jenis satwa liar. Pola migrasi yang dilakukannyapun berbeda setiap jenis satwa, tergantung pada keadaan, waktu dan berbagai penyebab keadaan. Ada yang melakukan migrasi karena satwa tersebut pergi untuk mendapatkan makanan, perkembangbiakan dan perubahan musim pada bumi belahan utara maupun selatan sehingga menuntut satwa berpindah untuk mempertahankan hidupnya, baik dari dingin maupun panas.
Pada dasarnya, Migrasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu migrasi musiman dan migrasi harian. Migrasi musiman biasanya berhubungan dengan perubahan iklim. Migrasi ini dapat dilakukan menurut garis lintang, ketinggian tempat maupun secara lokal, sedangkan migrasi harian disebut juga pergerakan harian karena beberapa satwa liar melakukan pergerakan harian selama 24 jam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Salah satu contoh satwa yang melakukan migrasi setiap tahunnya adalah burung pantai yang mengembara dari tempat berbiakanya di daerah tundra Arktik menuju ke Selatan untuk menghindari musim dingin pada bulan September – April. Banyak burung-burung pantai yang beristirahat dan mencari makan di wilayah Asia. Sementara yang lainnya meneruskan perjalanan menuju Australia dan Selandia Baru. Pada Bulan Mei dan Agustus ketika musim panas tiba di belahan bumi utara, mereka kembali ke Utara untuk berkembang biak.
Rute perjalanan burung biasanya disebut sebagai jalur terbang (flyway) dimana jalur terbang untuk Asia Timur – Australasia merupakan salah satu dari beberapa jalur terbang di dunia. Pada jalur terbang ini terdapat rangkaian kawasan lahan basah dimana burung pengembara beristirahat dan makan, salah satunya di Taman Nasional Wasur.
Pada tanggal 6-11 November 2009 telah dilakukan survei oleh staf Wildlife Conservation Society — Indonesia Program (WCS-IP), didampingi oleh beberapa staf Taman Nasional Wasur melakukan survey tentang burung-burung air di TN Wasur. Adapun jenis-jenis burung air yang teridentifikasi di TN Wasur adalah berjumlah 46 jenis burung air. Diantara hasil survey tersebut ditemukan jenis burung pantai biru-Iaut ekor-hitam (Limosa Iimosa) berbendera yang ditandai di Cina berada di Rawa Dogamit SPTN Wilayah II Ndalir TN Wasur pada koordinat 08" 38' 16.3" S 140° 32’ 05.0" E. Hal ini nampak jelas dilihat dari posisi bendera yang terletak pada kaki burung sebelah kanan dengan warna putih hitam. Ini menunjukkan indikasi bahwa lokasi tersebut aktif dijadikan persinggahan burung migran pada saat melakukan migrasi ke selatan maupun ke utara. 
TN Wasur telah banyak melakukan inventarisasi jenis-jenis burung yang ada di kawasan. Ada beberapa tempat yang menjadi objek kegiatan inventarisasi, salah satunya pada bulan Mei 2010 di hutan jarang melaleuca SPTN Wilayah II Ndalir merupakan habitat yang paling banyak dijumpai jenis burung yaitu sebanyak 27 jenis atau 61,36 % dari jenis-jenis burung yang ada, dengan jumlah populasi sebanyak 168 ekor. Lima belas jenis diantaranya hanya dijumpai di habitat tersebut, antara lain Kepudang sungu hitam, Cambuk papua, Sericornis, Bubut coklat, Remetuk, Kuka bura perut merah dan Ibis suci. Kemudian diikuti oleh habitat ecoton hutan jarang melaleuca & hutan monsoon sampai dengan habitat sekitar Rawa Dogamit. 
Serta habitat hutan pantai merupakan daerah yang kurang dijumpai jenis-jenis burung yaitu hanya sebanyak 18 jenis atau 41 % dari total burung yang ada dengan jumlah populasi sebanyak 114 ekor dan beberapa jenis diantaranya hanya dijumpai di habitat tersebut, yaitu Trinil pantai, Camar angguk hitam, Undan kacamata / pelican, Dara laut jambon, Kirik-kirik Australia, Dara laut tengkuk hitam dan Dara laut kecil. Data tersebut merupakan hasil kegiatan ketika dilakukan musim penghujan.
Ketika musim kemarau, data jenis burung yang ada lebih banyak dibandingkan musim hujan. Berdasarkan hasil inventarisasi November 2008 Balai TN Wasur mencatat ada sejumlah 39 (tiga puluh sembilan) burung air di Rawa Dogamit dan 30 (tiga puluh) di Pantai Ndalir dan 52 (lima puluh dua) di hutan monsoon dan jarang melaleuca. Hal ini menunjukkan bahwa TN Wasur merupakan persinggahan burung-burung air ketika belahan bumi utara dingin. 
Keberadaan burung migran di TN Wasur banyak terdapat pada daerah-daerah seperti rawa permanen yang tidak mengalami kekeringan sepanjang tahun seperti Rawa Dogamit dan Rawa Mblatar SPTN Wilayah II Ndalir. Daerah ini ketika musim kemarau merupakan tempat berkumpulnya berbagai jenis burung migran untuk mencari makan karena pada tempat tersebut ikan berkumpul dalam jumlah yang cukup banyak. 
Pelestarian burung air bermigrasi tergantung pada pengelolaan yang memadai dari suatu jaringan kerja menyeluruh yang melibatkan lokasi yang memiliki kepantingan secara intemasional. Taman Nasional Wasur Sejak tahun 1996, sudah masuk dalam Jaringan Kerja Lokasi Jalur Terbang Asia Timur – Australasia. Di Indonesia sendiri hanya Taman Nasional Wasur yang targabung dalam kalompok kerja Jalur Tarbang Asia Timur - Australasia.
Ada beberapa permasalahan yang harus diperhatikan di dalam menjaga burung-burung migran dari bahaya kepunahan di Taman Nasional Wasur, antara lain : 
a) Hilangnya habitat dan perubahannya.
b) Gangguan oleh manusia.
c) Pemangsa.
d) Adanya tanaman yang bukan tanaman asli yang mendominasi kawasan tarsebut.
e) Parubahan iklim.
Namun secara umum, terdapat 2 (dua) macam ancaman utama bagi burung pantai di Indonesia, yaitu perubahan peruntukan dan perusakkan habitat serta perburuan. Penggunaan racun dan pestisida dalam pertanian ditengarai juga merupakan ancaman potensial bagi burung air. Meskipun demikian, diperlukan penelitian yang lebih mendalam untuk menentukan tingkat gangguan yang ditimbulkannya.
Sampai saat ini tidak ada peraturan perundang-undangan khusus yang berkaitan dengan burung pantai di Indonesia. Undang-undang perlindungan yang ada saat ini adalah UU No. 5/1990 mengenai sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, yang kemudian didukung oleh PP No. 7 tahun 1999. Dibawah Undang-undang ini, sekitar 400 jenis burung di Indonesia telah mendapat perlindungan. Sayangnya, hanya 9 jenis burung pantai yang termasuk jenis yang dilindungi. Undang-undang tersebut melarang untuk menangkap memelihara dan memperjualbelikan jenis-jenis burung yang dilindungi, termasuk bagian-bagian tubuh dan telurnya, baik hidup maupun mati.
Indonesia telah menjadi anggota dari berbagai perjanjian dan kerjasama internasional dibidang perlindungan hidupan liar, termasuk burung pantai. Diantaranya seperti CITES dan Convention on Biodiversity. Pada tahun 1991, Indonesia telah meratifikasi Konvensi Ramsar mengenai lahan basah yang memiliki kepentingan internasional, khususnya sebagai habitat burung air. Melalui konvensi ini, setiap negara anggota mengajukan lokasi lahan basah tertentu yang telah memenuhi kriteria, sebagai lahan basah yang memiliki kepentingan internasional dan kemudian membuat dan melakukan rencana pengelolaan kawasan tersebut beserta sumber daya di dalamnya. Masyarakat internasional juga diharapkan dapat membantu usaha tersebut. Indonesia telah memasukan Taman Nasional Berbak di Jambi dan Taman Nasional Wasur di Papua sebagai situs Ramsar. Kedua kawasan tersebut telah diketahui sebagai lokasi penting persinggahan burung pantai yang bermigrasi.
Untuk perlindungan burung pantai migran, Indonesia juga telah turut serta dalam kesepakatan multilateral negara-negara di kawasan Asia dan Oseania yang disebut East Asian – Australasian Shorebird Site Network. Sama halnya dengan Konvensi Ramsar, dalam kesepakatan ini setiap negara anggota diharuskan untuk mengajukan lokasi-lokasi yang penting bagi persinggahan burung migran. Taman Nasional Wasur telah diajukan sebagai lokasi tersebut.
Ada beberapa hal yang menjadi cacatan kedepan di dalam menjaga keberadaan burung migran di TN Wasur agar terhindar dari kepunahan, antara lain :
a. Melakukan inventarisasi dan identifikasi potensi kawasan yang menjadi habitat burung-burung migran; 
b. Memperbaiki atau memulihkan kerusakan habitat tumbuhan, satwa, atau ekosistem, di setiap kawasan konservasi pada prinsipnya dapat dilakukan pembinaan habitat yang dalam pelaksanaannya harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip konservasi;
c. Untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas jenis tumbuhan dan satwa agar tetap berada dalam keadaan seimbang dan dinamis, di setiap kawasan konservasi pada prinsipnya dapat dilakukan pembinaan populasi yang dalam pelaksanaannya harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip konservasi;
d. Kegiatan rehabilitasi dapat dilakukan di setiap kawasan konservasi dengan tetap memperhatikan segi teknis dan ilmiah. Rehabilitasi dilakukan atas dasar adanya kebutuhan untuk memperbaiki kondisi kawasan yang rusak atau menurun potensinya.
e. Melakukan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan yang menjadi habitat burung migran;
f. Melakukan kegiatan penyuluhan secara kontinyu kepada masyarakat akan pentingnya keberadaan burung-burung migran.
g. Pembinaan daerah penyangga dititikberatkan pada upaya peningkatan hubungan yang harmonis antara masyarakat dan kawasan konservasi yang sedemikian rupa sehingga kehadiran kawasan konservasi dapat dirasakan manfaatnya.
Untuk bisa melihat perubahan yang ada di TN Wasur, perlu adanya monitoring yang dilakukan secara berkesinambungan, baik monitoring habitat maupun satwa yang ada terutama burung-burung migran. Identifikasi tempat – tempat yang diperkirakan sebagai tempat migran di Taman Nasional Wasur sehingga akan mendapatkan data yang berkelanjutan untuk monitoring sepanjang tahun.

« Go back